18 jam yang lalu
Bulan Ramadhan adalah momentum yang sangat berharga bagi setiap Muslim untuk memanen pahala dan membersihkan jiwa. Namun, sering kali kita terjebak dalam rutinitas yang membuat ibadah ini kehilangan esensinya. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebuah latihan spiritual yang mendalam untuk memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Sahabat Qur’ani, agar perjalanan spiritual kita membuahkan hasil yang maksimal, kita perlu menyadari beberapa kesalahan yang sering terjadi saat puasa yang sering kali tidak kita sadari. Dengan mengenali kekurangan tersebut, kita bisa melakukan perbaikan demi menjaga kualitas puasa agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang hampa.
1. Menganggap Puasa Hanya Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat puasa adalah pemahaman yang sempit bahwa kewajiban ini hanya terbatas pada menahan rasa lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika pikiran kita hanya terfokus pada perut, maka kita akan kehilangan dimensi spiritual dari ibadah ini.
Tujuan utama puasa telah ditegaskan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Taqwa adalah buah dari puasa yang mencakup kesadaran penuh akan pengawasan Allah dalam setiap tindakan. Jika kita hanya menahan makan namun tetap melakukan kemaksiatan hati, maka kita termasuk dalam golongan yang diperingatkan Rasulullah SAW bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Cara memperbaikinya adalah dengan senantiasa menghadirkan hati dan merenungi setiap larangan Allah.
2. Tidak Menjaga Lisan dari Ghibah, Marah, dan Perkataan Sia-sia
Sering kali kita merasa sudah sukses menjalankan adab berpuasa dalam Islam hanya karena perut sudah kosong. Padahal, kesalahan yang sering terjadi saat puasa yang paling merusak pahala adalah tidak terjaganya lisan. Menggunjing (ghibah), emosi yang meledak-ledak, atau membicarakan hal sia-sia dapat menghanguskan nilai ibadah kita.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 12:
“...dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik...”
Dalam kondisi lapar, emosi cenderung lebih labil. Namun, di sinilah letak ujian sesungguhnya. Untuk menjaga kualitas puasa, kita harus melatih kesabaran. Jika ada yang memancing amarah, ingatlah pesan Rasulullah untuk berucap, "Inni sho-im" (Sesungguhnya aku sedang berpuasa).
3. Lalai dari Tilawah Al-Qur’an dan Ibadah Tambahan di Bulan Ramadhan
Sangat disayangkan jika waktu luang saat berpuasa justru dihabiskan hanya untuk tidur berlebihan atau menonton hiburan yang tidak bermanfaat. Ini adalah salah satu kesalahan puasa Ramadhan yang membuat kita rugi besar. Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an, sehingga menjauh darinya berarti menjauh dari sumber keberkahan itu sendiri.
Meningkatkan frekuensi tilawah, shalat sunnah Rawatib, dan sedekah adalah cara terbaik untuk mengisi waktu. Sahabat Qur’ani, cobalah untuk menetapkan target tadabbur ayat setiap harinya. Dengan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur'an, mentalitas kita akan lebih terjaga dan puasa kita akan terasa lebih bercahaya karena diisi dengan nutrisi spiritual yang tepat.
4. Berlebihan Saat Berbuka dan Sahur Sehingga Mengurangi Hikmah Puasa
Fenomena "balas dendam" saat berbuka adalah kesalahan yang sering terjadi saat puasa yang paling umum ditemukan. Kita sering memenuhi meja makan dengan berbagai hidangan hingga akhirnya kekenyangan dan malas untuk melaksanakan shalat Tarawih. Begitu pula saat sahur, makan berlebihan karena takut lapar di siang hari justru bertentangan dengan semangat kesederhanaan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 31:
“...makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Sikap berlebihan ini merusak adab berpuasa dalam Islam. Puasa seharusnya mengajarkan kita untuk mengendalikan nafsu, bukan justru memuaskannya secara liar saat matahari terbenam. Cara memperbaikinya adalah dengan mengonsumsi makanan yang thayyib (baik) dan secukupnya, agar raga tetap bugar untuk beribadah di malam hari.
5. Tidak Menjaga Niat dan Keikhlasan dalam Berpuasa
Kesalahan terakhir yang sangat krusial adalah memudar atau rusaknya niat. Terkadang, kita berpuasa hanya karena "sungkan" pada lingkungan atau sekadar mengikuti tren sosial. Tanpa keikhlasan, puasa hanya menjadi beban fisik tanpa nilai di akhirat. Inilah kesalahan puasa Ramadhan yang bersifat batiniah namun dampaknya sangat fatal.
Setiap pagi, bahkan setiap saat, kita perlu memperbarui niat bahwa puasa ini murni karena perintah Allah (imanan wa ihtisaban). Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Mari kita periksa kembali hati kita: apakah kita berpuasa untuk mencari pujian manusia atau benar-benar untuk mengejar cinta-Nya?
Sahabat Qur’ani, menyadari berbagai kesalahan yang sering terjadi saat puasa di atas bukanlah untuk membuat kita patah semangat, melainkan sebagai bahan muhasabah agar kita bisa terus tumbuh. Puasa yang berkualitas adalah puasa yang melibatkan seluruh anggota tubuh: perut yang menahan lapar, lisan yang terjaga dari maksiat, hati yang ikhlas, dan anggota badan yang giat beribadah.
Mari kita jadikan sisa hari-hari di bulan suci ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga Allah SWT menerima setiap amal kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang meraih derajat takwa yang sesungguhnya.