20 jam yang lalu
Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, ilmu menempati posisi yang sangat mulia, bahkan menjadi kunci pembuka pintu-pintu hidayah. Al-Qur'an sering kali menggunakan pertanyaan retoris untuk menggugah logika dan nurani manusia agar merenungkan eksistensi mereka. Salah satu ayat yang paling menggetarkan dalam hal ini adalah Az-Zumar ayat 9 tentang keutamaan orang berilmu. Ayat ini tidak hanya sekadar teks sejarah, tetapi merupakan kompas bagi kita untuk memahami jati diri sebagai hamba Allah.
Sahabat Qur’ani, di era informasi yang membanjir saat ini, memiliki ilmu yang benar menjadi filter utama agar kita tidak tersesat. Pertanyaan fundamental "Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?" menuntut kita untuk menelaah lebih dalam mengenai kedudukan intelektualitas yang bersanding dengan spiritualitas. Mari kita tadabburi bersama rahasia di balik ayat yang istimewa ini.
1. Latar Belakang dan Kandungan Umum QS. Az-Zumar Ayat 9
Surah Az-Zumar secara umum berbicara tentang ketulusan beragama dan pemurnian tauhid. Pada ayat ke-9, Allah SWT memberikan perbandingan yang sangat kontras antara dua kelompok manusia. Di satu sisi, digambarkan sosok yang taat, bersujud, dan berdiri di waktu malam dengan penuh ketundukan. Di sisi lain, Allah menutup deskripsi tersebut dengan pertanyaan retoris yang tajam.
Kandungan Az-Zumar ayat 9 tentang keutamaan orang berilmu bermula dari firman Allah:
“...Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Ayat ini menegaskan bahwa keunggulan seseorang di mata Allah tidaklah ditentukan oleh harta atau rupa, melainkan oleh kualitas pemahaman dan kesadaran batinnya. Tafsir QS Az-Zumar ayat 9 menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud bukan sekadar wawasan logika, melainkan pengetahuan yang melahirkan rasa takut (khosyah) dan harap kepada-Nya.
2. Makna “Orang Berilmu” dalam Perspektif Al-Qur’an
Sahabat Qur’ani, sering kali kita menyempitkan makna ilmu sebatas gelar akademik. Namun, ilmu dalam Al-Qur’an memiliki spektrum yang jauh lebih luas. Orang yang disebut "berilmu" adalah mereka yang mampu menghubungkan setiap fenomena alam dan kejadian hidup dengan kebesaran Allah.
Dalam perspektif Qur'ani, ilmu adalah cahaya (nur) yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran. Orang berilmu adalah mereka yang "mengetahui" hakikat dunia yang fana dan akhirat yang kekal. Sebagaimana dijelaskan dalam keutamaan orang berilmu dalam Islam, ilmu yang sejati adalah yang mampu mengantarkan pemiliknya pada kedekatan spiritual, bukan sekadar tumpukan teori yang tidak membekas pada amal perbuatan.
3. Perbedaan Hakiki Antara Orang Berilmu dan Tidak Berilmu
Allah SWT mengajukan pertanyaan "Apakah sama?" untuk menegaskan perbedaan yang sangat jauh. Perbedaan ini bukan hanya soal kapasitas otak, melainkan soal arah hidup. Keutamaan orang berilmu dalam Islam dibandingkan orang yang tidak berilmu ibarat cahaya dibandingkan kegelapan, atau orang yang melihat dibandingkan orang yang buta.
Beberapa perbedaan hakiki yang tersirat dalam tafsir QS Az-Zumar ayat 9 antara lain:
Ketajaman Bashirah (Mata Hati): Orang berilmu melihat hikmah di balik musibah, sementara orang tidak berilmu hanya melihat kesulitan.
Kualitas Ketaatan: Ibadah orang berilmu dibangun di atas keyakinan, sedangkan orang tidak berilmu hanya ikut-ikutan.
Kestabilan Jiwa: Orang berilmu memiliki rasa takut akan hari akhir yang mendorongnya untuk berbuat baik, sementara orang tidak berilmu cenderung lalai.
4. Dampak Ilmu Terhadap Keimanan, Ibadah, dan Akhlak
Mengapa Az-Zumar ayat 9 tentang keutamaan orang berilmu begitu penting? Karena ilmu merupakan bahan bakar bagi keimanan. Tanpa ilmu, iman seseorang akan rapuh. Kedudukan ilmu dalam ibadah tercermin dalam bagian awal ayat ini, yang menyebutkan aktivitas qiyamul lail (bangun di waktu malam). Pengetahuan tentang keagungan Allah membuat seseorang rela meninggalkan tempat tidurnya demi bersujud.
Selain itu, ilmu sangat berpengaruh pada akhlak. Rasulullah SAW bersabda, "Para ulama adalah pewaris para Nabi." (HR. Abu Dawud). Kedudukan ilmu dan ulama sangat tinggi karena mereka memikul beban untuk memperbaiki moral umat. Ilmu yang benar akan melahirkan kerendahhatian, kejujuran, dan kasih sayang terhadap sesama makhluk, karena mereka tahu bahwa ilmu yang mereka miliki adalah titipan dari Allah.
5. Relevansi QS. Az-Zumar Ayat 9 dalam Kehidupan Sehari-hari Muslim
Di zaman sekarang, relevansi Az-Zumar ayat 9 tentang keutamaan orang berilmu terasa kian mendesak. Kita hidup di masa di mana hoaks dan fitnah mudah tersebar. Tanpa ilmu dalam Al-Qur’an sebagai pegangan, seorang Muslim akan mudah terombang-ambing oleh tren yang tidak jelas asal-usulnya.
Menerapkan ayat ini dalam kehidupan sehari-hari berarti:
Terus Belajar: Tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.
Tabayyun: Meneliti setiap informasi yang masuk agar tidak bertindak ceroboh.
Integrasi Iman dan Ilmu: Menjadikan ilmu sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas sholat dan dzikir kita.
Menghormati Ahli Ilmu: Menjaga kedudukan ilmu dan ulama dengan cara belajar kepada mereka yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Menjadikan Ilmu Sebagai Jalan Pulang
Sahabat Qur’ani, ayat ini adalah pengingat bahwa Allah memberikan derajat yang tinggi bagi mereka yang mau menggunakan akal dan hatinya untuk belajar. Menjadi orang yang berilmu adalah sebuah perjalanan seumur hidup, bukan sebuah tujuan akhir. Dengan ilmu, kita tidak hanya memperbaiki taraf hidup di dunia, tetapi juga membangun istana di akhirat.
Mari kita berazam untuk tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa ada ilmu baru yang mendekatkan kita kepada Allah. Ingatlah selalu pertanyaan Allah dalam Az-Zumar ayat 9 tentang keutamaan orang berilmu sebagai motivasi untuk terus tumbuh dan bersinar dengan cahaya wahyu.