Tilawati

Kenapa Ramadhan Disebut Bulan Al-Qur’an? Ini Makna dan Keutamaannya bagi Umat Islam


12 jam yang lalu


kenapa-ramadhan-disebut-bulan-al-quran-ini-makna-dan-keutamaannya-bagi-umat-islam

Bagi umat Islam di seluruh dunia, kehadiran bulan Ramadhan selalu membawa atmosfer spiritual yang berbeda. Selain kewajiban berpuasa, ada satu identitas yang melekat erat pada bulan suci ini, yaitu sebagai Syahrul Qur’an. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam, mengapa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an? Keterkaitan antara keduanya bukanlah sekadar kebetulan waktu, melainkan sebuah desain ilahi yang menempatkan wahyu sebagai ruh dari ibadah puasa itu sendiri.

Sahabat Qur’ani, memahami hubungan ini akan membantu kita menjalani Ramadhan dengan kualitas yang lebih baik. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang kembali berinteraksi dengan cahaya petunjuk yang turun dari langit. Mari kita telaah lebih jauh makna dan keistimewaan di balik penyebutan mulia ini.

1. Turunnya Al-Qur’an pada Bulan Ramadhan sebagai Peristiwa Agung (Nuzulul Qur’an)

Alasan paling mendasar mengapa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an adalah karena pada bulan inilah kitab suci terakhir diturunkan ke bumi. Peristiwa yang kita kenal sebagai Nuzulul Qur’an ini merupakan titik awal perubahan sejarah peradaban manusia dari kegelapan menuju cahaya iman.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185:

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)..."

Selain itu, dalam QS. Ad-Dukhan: 3, Allah juga menegaskan:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi...”

Malam yang diberkahi tersebut adalah Lailatul Qadar yang berada di bulan Ramadhan. Inilah bukti otentik mengapa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an, karena ia menjadi wadah bagi turunnya mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.

2. Ramadhan sebagai Momentum Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an

Setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya, termasuk membaca setiap huruf dalam Al-Qur’an. Inilah salah satu keutamaan Ramadhan dan Al-Qur’an yang membuat masjid dan rumah-rumah kaum Muslimin bergema dengan lantunan ayat suci selama sebulan penuh.

Membaca Al-Qur’an di saat perut sedang berpuasa memberikan sensasi spiritual yang berbeda. Ada hikmah membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan yang sangat besar, yakni sebagai pembersih jiwa (tazkiyatun nafs). Saat fisik melemah karena haus dan lapar, ruhani justru menguat dengan asupan gizi berupa kalamullah. Oleh karena itu, wajar jika setiap mukmin berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an karena mereka sadar bahwa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an.

3. Teladan Rasulullah dalam Memperbanyak Interaksi dengan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Sahabat Qur’ani, semangat kita dalam bertadarus sebenarnya adalah bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Beliau memberikan teladan nyata bahwa interaksi dengan wahyu harus meningkat tajam di bulan suci ini. Alasan praktis mengapa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an dapat kita lihat dari riwayat Ibnu Abbas RA:

"Malaikat Jibril biasa menemui Nabi SAW pada setiap malam di bulan Ramadhan, kemudian Jibril menyimak bacaan Al-Qur'an Nabi SAW." (HR. Bukhari & Muslim).

Aktivitas mudarasah (saling menyimak dan mempelajari) antara Nabi dan Jibril ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah waktu khusus untuk mengevaluasi dan memperdalam hubungan kita dengan Al-Qur’an. Jika Rasulullah yang sudah dijamin surga saja begitu giat bermurajaah, apalagi kita yang masih penuh dengan kekhilafan.

4. Al-Qur’an sebagai Pedoman Perubahan Spiritual selama Ramadhan

Seringkali kita bertanya, apa kaitan langsung antara puasa dan Al-Qur’an? Puasa bertugas mengekang hawa nafsu, sementara Al-Qur’an bertugas mengisi kekosongan hati dengan petunjuk. Tanpa Al-Qur’an, puasa mungkin hanya akan menjadi diet fisik semata. Inilah inti dari keutamaan Ramadhan dan Al-Qur’an yang saling melengkapi.

Ketika Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an, itu berarti kita diharapkan mengalami transformasi karakter. Ayat-ayat yang kita baca seharusnya menjadi pengingat untuk sabar, jujur, dan dermawan. Al-Qur’an berfungsi sebagai kompas yang memastikan bahwa proses menahan diri selama puasa membawa kita pada terminal takwa, bukan sekadar haus dan dahaga.

5. Menghidupkan Budaya Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an sepanjang Ramadhan

Implementasi nyata dari pengakuan bahwa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an tidak berhenti pada lisan, tetapi berlanjut pada pemahaman dan pengamalan. Sangat disayangkan jika kita hanya mengejar target khatam tanpa memahami satu pun pesan yang Allah sampaikan.

Hikmah membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan akan semakin terasa jika kita menyisihkan waktu untuk membaca terjemahan atau tafsir ringkasnya. Menghidupkan budaya tadabbur (perenungan) akan membuat hati lebih bergetar saat shalat tarawih maupun saat tilawah pribadi. Dengan memahami maknanya, kita tidak lagi menganggap Al-Qur’an sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai surat cinta dari Allah yang harus kita jawab dengan ketaatan di kehidupan sehari-hari.

Sahabat Qur’ani, alasan mengapa Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an adalah karena bulan ini merupakan perayaan turunnya ilmu dan petunjuk bagi manusia. Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua sahabat yang akan memberi syafaat bagi hamba yang memuliakan keduanya di hari kiamat kelak.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar rutinitas menahan lapar, melainkan musim semi bagi hati kita melalui kebersamaan dengan Al-Qur’an. Jangan biarkan mushaf kita berdebu, mulailah membuka lembaran-Nya, resapi maknanya, dan jadikan ia sebagai penuntun jalan kehidupan kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi bagian dari Ahlul Qur’an yang dicintai-Nya.