14 jam yang lalu
BANTUL — Sebanyak 43 santri Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Omah Ngaji resmi mengikuti prosesi Wisuda Tahfidz dan Khotmil Qur'an Bin Nadzir 30 Juz pada Ahad, 27 September 2026. Agenda pendidikan keagamaan ini bertempat di aula pendopo Balaidesa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan pengukuhan santri tersebut disaksikan secara langsung oleh 175 tamu undangan dari berbagai kalangan. Pada penyelenggaraan tahun ini, pihak TPQ Omah Ngaji mengusung tema kegiatan berbunyi "Menjadi Cahaya di Rumah, Menjadi Cahaya di Negeri Indonesia".

Terdapat hal menarik dari pelaksanaan wisuda kali ini, yakni penerapan pendekatan kolaboratif dalam susunan kepanitiaan acara. Pihak lembaga secara langsung mempercayakan posisi ketua panitia pelaksana kepada perwakilan wali santri.
Dalam tugas operasionalnya, kepanitiaan wali santri tersebut tetap didukung dan didampingi secara penuh oleh para ustadz dan ustadzah. Selain itu, pemilihan fasilitas pendopo balaidesa sebagai tempat acara turut memberikan nilai tambah bagi upaya syiar keagamaan agar aktivitas lembaga lebih dikenal luas oleh masyarakat.
Acara tingkat daerah ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, meliputi Penasihat TPQ Omah Ngaji Bapak Kartono, dan Kepala TPQ Omah Ngaji Ustadzah Berti Widyasih, S.Pd. Hadir pula Pengurus Badan Koordinasi (Badko) Piyungan Ustadz Dodit, serta Pengurus Tilawati Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta Ustadz Rifky Nurhimawan, M.H.
Dalam sesi sambutannya, Bapak Kartono memberikan arahan mengenai pentingnya pembentukan sinergitas di dalam proses pendidikan. Beliau menekankan bahwa pembelajaran hanya dapat berjalan optimal apabila ada kerja sama yang berkesinambungan antara tiga elemen utama, yakni orang tua, anak, dan ustadz-ustadzah.

Sesi sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustadz Rifky Nurhimawan yang memberikan pembekalan khusus bagi para wisudawan. Beliau mengutip sebuah nadhom dari kitab Alala yang menguraikan enam syarat dasar ketika menuntut ilmu. Kutipan bahasa Arab tersebut dilantunkan secara langsung, yakni اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِســــِتَّةٍ * سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ yang dilanjutkan dengan bait ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ * وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ. Ustadz Rifky kemudian menyampaikan terjemahannya dalam bahasa Jawa, yang berbunyi elingo dak hasil ilmu anging enem perkoro, bakal tak ceritaake kumpule kanti pertelo.
Lebih lanjut, beliau merinci terjemahan nadhom tersebut ke dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh seluruh peserta. Maknanya adalah seseorang tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam perkara atau syarat pokok. Keenam syarat tersebut meliputi akal yang cerdas, semangat yang tinggi, kesabaran, ketersediaan biaya, kepatuhan pada petunjuk pendidik, dan lamanya waktu belajar.
Pesan ini diharapkan menjadi pengingat bagi para wisudawan bahwa kelulusan tahfidz ini merupakan awal dari proses panjang pencarian ilmu pada masa mendatang.