15 jam yang lalu
SURABAYA — Webinar Terjemah Lafdziyah sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 17 Oktober 2026 dan diikuti oleh 34 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan terbanyak dari Bekasi. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan Ustaz Imam Syafi’i selaku Master Trainer untuk membekali peserta dengan pengetahuan dasar Al-Qur’an, kaidah bahasa Arab, serta strategi pembelajaran terjemah lafdziyah.
Kegiatan diawali dengan sapaan Ustaz Imam Syafi’i kepada para peserta satu per satu. Interaksi tersebut dilakukan untuk mencairkan suasana sekaligus membangun kedekatan sebelum peserta memasuki materi pembelajaran.
Pada sesi pertama, peserta diajak mengenal mushaf Al-Qur’an sebelum mempelajari terjemah lafdziyah. Pembahasan meliputi asal penamaan Al-Qur’an, kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW., seperti Taurat, Zabur, dan Injil, serta berbagai informasi dasar mengenai Al-Qur’an.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai struktur Al-Qur’an, mulai dari jumlah juz, hizib, surah, ayat, kalimat, huruf, rubu’, hingga ruku’. Selain itu, disampaikan sejumlah fakta menarik tentang Al-Qur’an yang sehari-hari dibaca dan dipelajari oleh umat Islam. Materi ini menjadi landasan awal bagi peserta untuk memahami Al-Qur’an secara lebih menyeluruh sebelum mempelajari metode penerjemahan kata demi kata.
Materi kedua berfokus pada pengenalan terjemah lafdziyah. Dalam sesi ini, peserta mempelajari dasar pemikiran terjemah lafdziyah berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, keterkaitannya dengan metode tilawati, serta karakteristik dan tujuan buku Terjemah Lafdziyah. Selain itu, peserta memperoleh penjelasan mengenai persyaratan yang perlu dipenuhi oleh guru maupun santri dalam pembelajaran Terjemah Lafdziyah.
Pada kesempatan tersebut, Ustaz Imam Syafi’i menekankan pentingnya kemauan guru untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu yang dimiliki. ”Tugas seorang guru Al-Qur’an tidak berhenti pada kegiatan mengajar, tetapi juga mencakup upaya menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an secara konsisten setiap hari,” tegasnya.
Sikap belajar dan istiqamah tersebut diharapkan menjadi teladan bagi para santri. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki materi ketiga, peserta mulai mempelajari kaidah dasar bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan pengenalan huruf Arab, termasuk pembagian huruf menjadi harful ma’ani dan harful mabani. Selanjutnya, peserta mempelajari unsur kalam, tanda-tanda isim atau kata benda, serta tanda-tanda fi’il atau kata kerja. Materi juga dilengkapi dengan pengenalan kata dan kalimat yang sering dijumpai dalam Al-Qur’an.
Untuk memperkuat pemahaman, peserta diajak berlatih mengidentifikasi kalimat berdasarkan kaidah yang telah dijelaskan. Sesi ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan dasar peserta untuk memahami struktur bahasa Arab yang digunakan dalam pembelajaran Terjemah Lafdziyah.
Pada materi keempat, peserta mempelajari strategi pembelajaran Terjemah Lafdziyah yang dapat diterapkan oleh guru atau ustaz-ustazah di lembaga masing-masing. Ustaz Imam Syafi’i memaparkan enam langkah strategi pembelajaran terjemah model tilawati, mulai dari pembukaan, kegiatan inti, hingga penutupan. Setiap tahapan memiliki alokasi waktu dan ketentuan pelaksanaan yang perlu diperhatikan agar pembelajaran berlangsung secara terarah.
Setelah pemaparan materi, peserta diajak mendemonstrasikan praktik pembelajaran berdasarkan materi yang telah dipelajari. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan pengetahuan secara langsung sekaligus memahami alur pembelajaran Terjemah Lafdziyah.
Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengklarifikasi materi, menyampaikan pertanyaan, serta mendiskusikan berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran di lapangan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep dasar terjemah lafdziyah, tetapi juga memiliki bekal praktis untuk menerapkan strategi pembelajarannya. Penguatan pemahaman Al-Qur’an, penguasaan kaidah dasar bahasa Arab, serta keteladanan guru dalam belajar dan mengamalkan ilmu menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran Al-Qur’an yang lebih terarah dan berkelanjutan. (faj/eko)