4 hari yang lalu
Surabaya — Cabang Tilawati Regional Jawa Barat 2 melaksanakan kegiatan silaturrahim ke Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 100 guru Al-Qur’an dari Bekasi.
Rombongan disambut hangat oleh keluarga besar Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah. Dalam sambutan pengantar, Ustadz Daos Husni, S.Pd.I selaku Kepala Cabang Tilawati Regional Jawa Barat 2 menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan yang diberikan. Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momen temu kangen dan ajang mempererat silaturrahim dengan para guru dan pengelola Tilawati pusat.
“Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga bagi kami untuk bersilaturrahim dan menimba semangat dari para guru Tilawati pusat yang selama ini menjadi rujukan dan inspirasi,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Yayasan Nurul Falah, Dr. KH. Umar Jaeni, M.Pd., memberikan motivasi dakwah Al-Qur’an kepada para guru. Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an harus dijadikan sebagai inspirasi diri dalam mengajarkan dan mendakwahkannya. Al-Qur’an bukan hanya diajarkan, tetapi juga dijadikan sebagai pandangan hidup yang disebarluaskan kepada umat.
Beliau juga menegaskan bahwa menjadi guru Al-Qur’an bukanlah semata-mata pilihan pribadi, melainkan amanah dari Allah SWT yang dititipkan dalam jiwa setiap pendidik Al-Qur’an. Amanah tersebut harus dijalankan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan semangat perjuangan.
Sesi berikutnya diisi dengan kilas balik sejarah Metode Tilawati yang disampaikan langsung oleh Muallif Tilawati, Drs. KH. Ali Muaffa, M.Ag. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan perjalanan lahirnya Metode Tilawati dan perjuangan para pendirinya dalam membumikan Al-Qur’an.
Beliau menuturkan bahwa sejak tahun 1989, tim Tilawati mulai berkiprah di dunia pendidikan Al-Qur’an di berbagai TPQ dan TPA secara profesional. Perjalanan tersebut semakin menguat pada tahun 1993 dan mencapai puncaknya pada tahun 2000. Menjelang tahun 2000, muncul kesadaran akan perlunya inovasi metode pembelajaran Al-Qur’an untuk mengantisipasi kejenuhan, yang kemudian melahirkan konsep Tilawati melalui peran Abah Thohir Al Aly.
Metode Tilawati mulai diuji coba pada tahun 2000 di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Bondowoso dengan pendampingan langsung para tokoh penggagasnya. Hasil uji coba yang positif kemudian dilaporkan dalam rapat pleno pada awal tahun 2004, hingga akhirnya empat muallif Tilawati sepakat untuk mengelola metode ini secara profesional.
Pada Agustus 2004, Tilawati resmi tampil secara fisik di bawah manajemen Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah (PNF), dilengkapi dengan sambutan dari berbagai tokoh penting daerah dan nasional. Pada tahun yang sama, Tilawati dilaunching di Masjid Ulil Albab IAIN Sunan Ampel Surabaya dan dihadiri oleh sekitar 950 guru Al-Qur’an se-Jawa Timur dengan sambutan yang sangat antusias. Hingga tahun 2007, Tilawati semakin diterima luas dan mendapat tempat di hati masyarakat.
Sesi terakhir diisi dengan pengenalan program-program Lazis Nurul Falah yang disampaikan oleh Ustadz Mohammad Ainun Najib, S.H selaku Kepala Divisi Program dan Pentasyarufan. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan peran Lazis Nurul Falah dalam pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah, serta menekankan pentingnya zakat sebagai instrumen pemberdayaan umat dan guru" al quran.
Kegiatan silaturrahim ini diharapkan dapat memperkuat ukhuwah, menambah semangat dakwah Al-Qur’an, serta mempererat sinergi antara Cabang Tilawati Regional Jawa Barat 2 dengan Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya dalam membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.