sehari yang lalu
SURABAYA — Cabang Tilawati Surabaya Cahaya Amanah secara resmi telah sukses menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Standarisasi Guru Al-Qur'an Model Tilawati Level 1 dan Level 2. Kegiatan strategis dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga pengajar tersebut berlangsung secara intensif selama dua hari berturut-turut. Rangkaian pelatihan ini dilaksanakan pada hari Sabtu-Ahad, 24-25 Oktober 2026.
Agenda pemantapan mutu pendidikan agama ini mengambil tempat secara terpusat di lingkungan Pesantren Al-Qur'an Nurul Falah, Kota Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh total 39 tenaga pendidik yang berasal dari berbagai lembaga di wilayah Surabaya. Peserta pelatihan ini diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yakni 27 peserta berpartisipasi pada jenjang Level 1, serta 12 peserta lainnya mengikuti kelas pendalaman di Level 2.
Untuk menjamin kualitas standarisasi, pihak penyelenggara menghadirkan tim instruktur yang mumpuni di bidang pengajaran metode Tilawati. Sesi pembelajaran untuk Level 1 dikawal langsung oleh Ustadz Moh. As'ad, S.E.Sy., dan Ustadz Muhammad Zulfikri, S.Hum. Keduanya juga turut memberikan materi di kelas Level 2 dengan tambahan pendampingan teknis dari instruktur lainnya, yakni Ustadzah Enik.
Selama proses pendidikan berlangsung, peserta pada kelompok Level 1 difokuskan untuk menguasai materi-materi fundamental pengajaran. Pokok bahasan yang dikupas meliputi standar lagu Tilawati jilid 1 hingga 5, strategi penerapan jilid, kaidah ghorib musykilat, serta strategi khusus Tilawati untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Para pendidik juga dilatih untuk melakukan praktik mengajar atau microteaching dan memahami teknis ujian munaqosyah.
Sementara itu, para peserta yang tergabung di kelas Level 2 mendapatkan porsi materi pengajaran pada tahapan lanjutan. Pembahasan di kelas ini difokuskan pada penguasaan teori waqof ibtida', penguatan irama Rost, serta pengenalan lagu Nahawand. Selain itu, dibahas pula mengenai strategi pembelajaran tadarus Al-Qur'an, pemanfaatan Buku Pintar 2, teknis Tilawati Remaja, perbaikan penulisan huruf Arab atau tahsinul kitabah, hingga simulasi microteaching.
Pendekatan yang digunakan sepanjang diklat ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi seluruh peserta yang hadir. Proses pembelajaran tidak sekadar mengandalkan komunikasi satu arah, melainkan menekankan pada interaksi aktif, forum diskusi, serta praktik pengajaran secara langsung. Suasana kelas yang partisipatif ini dinilai sangat efektif untuk membantu para guru memahami materi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka di hadapan santri.
Antusiasme yang tinggi turut tercermin dari kesan positif yang disampaikan oleh para perwakilan peserta. Mereka mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya pelatihan ini karena terbukti memberikan wawasan baru terkait metodologi pengajaran yang tepat sasaran. Seluruh materi yang disajikan secara sistematis ini rencananya akan langsung diimplementasikan dalam proses kegiatan belajar mengajar para santri di lembaga masing-masing.